Categories
seputar aqiqah

Keutamaan Aqiqah

RAMBUT BAYI YANG TERPANGKAS

DALAM BAHASAN KEUTAMAAN AQIQAH YANG RINGKAS

 

OLEH : INDRA SUDRAJAT

 

Dalam menjalankan suatu ibadah terdapat di dalamnya targhîb (motivasi untuk mendapatkan pahala) dan tarhîb (rasa takut akan adanya ancaman neraka) diingiringi rasa cinta seorang hamba terhadap sang maha Pencipta, Allah tabaraka wa ta’ala (mahabbah), sehingga kompensasi duniawi dan ukhrowi selalu menjadi alasan yang kuat seseorang melaksanakan ibadah.

Pada setiap ibadah yang ditetapkan syariat terdapat di dalamnya keutamaan-keutamaan yang menyertai kelengkapan seorang hamba dalam mewujudkan tiga poros ibadah yang di atas (targhîb, tarhîb, mahabbah), sebagai langkah penjabaran dan penguraian hikmah-hikmah yang terkandung dalam sebuah ibadah. Adapun keutamaan-keutamaan AQIQAH[1]sebagai berikut:

  1. Ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menganugerahkan buah hati di dalam kehidupan berumah tangganya sebagai ungkapan kebahagian (uvoria) atas kehadiran sang buah hati di tengah-tengah kehidupan[2].
  2. Melaksanakan syi’ar Allah yang merupakan syi’ar agama ini, sebagai wujud ketaqwaan serta penghambaan diri seorang hamba kepada ketetapan-ketetapan syariatNya[3].
  3. Amalannya orang-orang shaleh terdahulu yang telah mewariskan banyak kebaikan dari ajaran-ajaran agama yang telah dicintai oleh Allah berdasarkan petunjuk Rasulullah, sebagai penghapus atas adat-adat yang dibuat oleh manusia yang tidak terdapat di dalamnya petunjuk illahi[4].
  4. Menghilangkan gangguan terhadap bayi ketika mereka terlahir di atas muka bumi ini bersamaan dengan tersembelihnya kambing atau domba disertai dengan menggundul rambut bayi, diberi nama dengan nama-nama yang indah, dikhitan, bersedekah atas timbangan rambutnya dengan perak[5].
  5. Menghilangkan kebiasan-kebiasan buruk ajaran setan yang telah diwariskan oleh para leluhur dalam ritual-ritual menyabut kelahiran sang bayi pada khurafat-khurafat, tathayur, mitos-mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Seperti halnya masyarakat jahiliyyah suku Quraisy yang melumurkan darah-darah hewan yang disembelih di atas kepala sang bayi, atau apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia yang dipengaruhi oleh budaya suatu agama tertentu, menyalakan lentera di atas ari-ari bayi, mengarak ari-ari bayi yang sudah dikemas di dalam tembikar dan kemudian digendong oleh sang ayah menggunakan kain tertentu, menanamkan beberapa lidi dan pepohonan sebagai simbol perlindungan dari roh-roh jahat serta sebagai simbol kesuksesan di masa yang akan datang.

Demikian risalah ringan yang telah saya sarikan dari beberapa kitab para ulama yang mudah-mudahan memberikan wawasan baru tentang permasalahan yang terkadang membutuhkan solusi

Walillahit tawfiqwallahu ‘alam bisshowab

Rujukan :

  1. 1. Kitab AL-AQIQAH karya Syeikh Muhyyiddin Ibn Abd Al-Hamîd, Maktabah Al-Khidmât Al-Hadîtsiyyah, Jeddah Kerajaan Saudi Arabia
  2. Kitab SHOHÎH FIQH AL-SUNNAH karya Syeikh Abu Mâlik Kamâl Sayyid Sâlim, Maktabah Tawqifiyyah, Kairo Mesir
  3. Kitab Minhajul Muslim, karya Syeikh Abu Bakar Jâbir Al-Jazâiriy, Maktabah Al-Ulûmi Wa Al-Hikami, Madinah KSA 2006

Disusun di Cirebon, 29 Jumadi Tsaniyah 1436 H/19 April 2015

Dokumentasi milik KABSUN CIREBON

IBADAH TENANG

HATI PUN SENANG

[1]               KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

[2]               Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

لَئِنْ شَكـَرْتُمْ لَأزِيدنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya : jika kalian benar-benar telah bersyukur sungguh akan Aku tambahkan bagi kalian nikmat dan jika kalian mengingkari sesungguhnya adzabKu amat sangatlah pedih (Q. S. Ibrahim : 7)

[3]               Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعـَـــائِرِ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُـلُوبِ

Artinya : demikianlah dan barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya ia dari ketaqwaan hati (Q.S. Al-Hajj : 32)

[4]               Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُشـَـاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تِبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا

Artinya : dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalan-jalannya orang yang beriman, kami membiarkannya terhadap apa yang ia telah jadikan baginya jalan kesesatan itu dan kami masukkan ia ke dalam jahannam dan jahannam itulah seburuk-buruk tempat kembali (Q.S. Annisa : 115)

[5]               Rasulullah shalallahu alayhi wa salam bersabda :

مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَأَهْـــــرِقُوا عَنْهُ دَمًــــــــــا وَأمِيْطُوا عَنهُ الْأِذَى (حديث صحيص)

Artinya : Bersama setiap anak ketetapan aqiqah maka alirkanlah darah (hewan aqiqah) dari kelahirannya dan singkirkanlah darinya gangguan (dengan beraqiqah) (Hadist Shahîh riwayat Al-Bazâr, Al-Hâkim pada riwayat Ahmad, An-Nasâi, Abu Dâwud dan Al-Tirmidziy dengan lafadz aqîqotuhu serta diriwayatkan oleh Bukhâriy secara mu’allaq majzûman bihi)