Categories
seputar aqiqah

Distribusi Aqiqah dan Qurban

DISTRIBUSI AQIQAH DAN QURBAN

SESUAI SYARIAH YANG TAK DAPAT DIABAIKAN

OLEH : INDRA SUDRAJAT

Berbagai anggapan dan mitos atau bahkan perkataan-perkataan manusia yang dijadikan sandaran tentang tata cara pembagian daging qurban dan aqiqah, padahal apa yang mereka yakini sama sekali tidak memiliki dalil dan pijakan yang kuat.

Di antara anggapan dan pendapat yang menyebar di tengah-tengah masyarakat adalah :

  1. Bahwa seseorang yang berqurban dan beraqiqah dilarang memakan ataupun mengambil daging dan tulang sedikitpun, dengan alasan bahwa apabila daging atau tulang yang diambil dan dimakan sendiri termasuk kategori orang yang tidak ikhlas dengan sesembelihannya.
  2. Hendaknya seseorang yang berqurban dan beraqiqah menimbang dan memberikan harga sesuai harga daging pada saat itu apabila dia hendak mengambil dan memakan daging sesembelihannya sendiri. Hal ini dilakukan untuk menjaga keikhlasan hati orang yang berqurban dan beraqiqah
  3. Diperbolehkan seseorang yang beraqiqah memakan dan mengambil daging sesembelihannya sendiri, akan tetapi hal yang demikian ini terlarang bagi orang yang berqurban. Demikian pula sebaliknya, dengan alasan bahwa pada aqiqah hewan diberikan untuk anak, sehingga orang tua yang mengaqiqahi anaknya diperbolehkan memakan daging sesembelihannya.
  4. Diperbolehkan seseorang yang berqurban memakan dan mengambil daging sesembelihannya sendiri, akan tetapi hal yang demikian ini terlarang bagi orang yang beraqiqah. Dasar alasan mereka bahwa pada aqiqah dimaksudkan sebagai penebus anak yang tergadaikan dengan aqiqahnya atau sebagai pembuang sial. Adapun pada qurban diperbolehkan untuk memakan daging sesembelihannya sendiri dikarenakan daging qurban sebagai hasil jerih payah sendiri.

Semua anggapan dan pendapat masyarakat di atas adalah anggapan dan pendapat yang kosong dari petunjuk ilahi dan risalah kenabian. Di mana apa yang terdapat pada syariat, justru membantah dan menghilangkan anggapan dan pendapat masyarakat yang ada.

Oleh karenanya perlu saya hadirkan di sini risalah singkat yang memaparkan tata cara yang benar tentang pembagian daging aqiqah dan qurban sesuai ketetapan syariah.

Syariat Islam telah menetapkan bahwa pembagian daging qurban dan aqiqah dapat dilakukan dengan tata cara berikut ini :

  1. Dibagikan semua untuk fakir, miskin dan dihadiahkan kepada karib kerabat
  2. Dibagi menjadi 3 bagian, sepertiga pertama untuk dimakan sendiri, sepertiga kedua untuk disimpan dan sepertiga ketiga untuk disedekahkan
  3. Dibagi menjadi 3 bagian, sepertiga pertama untuk dimakan sendiri, sepertiga kedua untuk dihadiahkan kepada seluruh karib kerabat baik kaya atau pun miskin, dan sepertiga ketiga untuk disedekahkan kepada anak yatim serta kepada fakir miskin.

Tentang dasar petunjuk dalil tata cara pembagian daging qurban dan aqiqah di atas adalah :

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اْسمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيْمَةِ اْلأَنْعـَـامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا اْلبَائِسَ اْلفَقِيرَ

Artinya : agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas apa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan beri makanlah sebagian yang lainnya kepada orang-orang yang sengsara lagi fakir (Q. S. Al-Hajj : 28)

فَاذْكُرُوا اسْم َاللهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلوُا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا القَانِعَ وَاْلمُعْتَرَّ

Artinya : maka sebutlah nama Allah oleh dirimu ketika kamu menyembelihnya (onta-onta) dalam keadaan berdiri (setelah terikat). Maka apabila onta-onta itu telah roboh mati, maka makanlah darinya sebagian dan beri makanlah darinyasebagian yang lainnya kepada orang-orang yang tidak meminta – minta karena keqona’ahannya dan kepada orang–orang yang meminta-minta (Q. S. Al-Hajj : 36)

Rasulullah shalallahu alayhi wasalam bersabda : “makanlah (untuk dirimu sendiri) dan berimakanlah (kepada fakir miskin) serta simpanlah (H. R. Bukhariydan Muslim)

Syeikh Abu Malik berkata di dalam kitab Shahih Fiqih Al-Sunnah : dan sebagian besar para ulama berpendapat bahwasanya pembagian daging qurban dimubahkan sepertiga untuk disedekahkan, sepertiga berikutnya untuk memberi makan, sepertiga berikutnya untuk dimakan diri sendiri.

Melihat petunjuk di atas maka batillah apa yang menjadi keyakinan mayoritas masyarakat Indonesia, mereka beranggapan bahwa dengan dimakannya daging qurban dan aqiqah oleh diri sendiri menghilangkan keikhlasan. Ikhlas adalah amalan hati, hilangnya keikhlasan tidak dapat ditunjukkan dengan dikonsumsinya daging qurban dan aqiqah oleh diri sendiri.Wallahu ta’la ‘alam bishowab

Rujukan :

  1. Kitab AL-AQIQAH karya Syeikh Muhyyiddin Ibn Abd Al-Hamîd, Maktabah Al-Khidmât Al-Hadîtsiyyah, Jeddah Kerajaan Saudi Arabia
  2. Kitab SHOHÎH FIQH AL-SUNNAH karya Syeikh Abu Mâlik Kamâl Sayyid Sâlim, Maktabah Tawqifiyyah, Kairo Mesir

Cirebon, Jum’at 5 Rajab 1436/24 April 2015